Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2013

Akhirnya dia Tersenyum Origin : Stenly Ringgo

Nama ku Stenly Ringgo, teman-teman ku memanggilku Stenly. Aku duduk di kelas 1 SMA yang lumayan terkenal di kota ku, kota Medan. Aku bersuku Batak, tapi entah dengan alasan apa orang tua ku tidak memberikan marga di nama ku, selayaknya orang yang bersuku Batak lainnya.  Aku adalah salah satu dari hampir seribu anak baru disekolah ku. Tapi aku mempunyai banyak kenalan di sekolah baruku. Mulai dari teman-teman SMP ku yang melanjutkan SMA ditempat yang sama dengan ku, sampai teman yang kukenal dari luar sekolah lama ku. Jadi, aku tidak terlalu merasa canggung di sekolah baruku. Seperti layaknya anak SMA biasa, kerjaan sehari-hari ku bermain, belajar, melakukan hal-hal konyol sampai yang bisa dibilang kriminal alias nyontek, meskipun teman-teman ku mengakui kalau aku lumayan pintar haha. Banyak sekali hal-hal menarik di masa-masa SMA ini, salah satu nya kisah cinta. Kisah yang sederhana tapi sulit dimengerti. Itulah yang ingin kusampaikan. Ada seorang perempuan di kelas 1 SMA di...

Akhirnya dia Tersenyum (part 3)

Hambar, bahkan bisa dibilang lebih dari hambar, yaitu pahit. Tertusuk, luka, kecewa, itu lah makanan hatiku belakangan ini. Aku bingung, terkadang aku tersenyum melihat Sean sedang bermain dengan orang yang dia sukai, tapi terkadang aku merutuki diriku sendiri untuk menghilangkan rasa kesal, sedih, dan kecewa yang tertanam dihatiku ketika dia bersama orang lain. Aku masih terpuruk di persimpangan yang entah mengapa selalu tak terjalani, persimpangan diantara membenci karena mencintai, atau menyayangi karena mencintai. Kedua nya berat untuk dijalani, aku tahu bahwa cinta itu tidak dapat dipaksa, aku juga tahu kalau sesuatu yang dipaksa akan menghasilkan sesuatu yang buruk, terlebih lagi cinta. Aku juga tak mau melihat Sean mencintai ku dengan sekedar rasa 'kasihan' atau bahkan mencintaiku dengan beban 'terpaksa'. Aku hanya berpikir, apakah karma juga berlaku didalam situasi seperti ini? aku yakin Tuhan pasti sangat bijaksana terhadap ciptaannya. "Shawn, kamu ...

Akhirnya dia Tersenyum (part 2)

Hitam putih. Kelabu. Itulah warnaku sekarang, warna ku yang penuh dengan warna-warni telah pudar. Pudar seperti jejak kaki, pudar seperti tulisan dipinggir pantai yang terhapus gelombang air. Apa yang harus kulakukan? bertahan diposisi seperti ini? atau terus berjalan untuk mencapai sebuah warna yang baru? aku sendiri tidak mengerti tindakan apa yang harus kuambil. Apa mungkin sudah saatnya aku berpaling dari Sean? Sudah saatnya bagiku untuk membuka lembaran baru di kertas putih polos? aku.. "Shawn!!", "eh? iya? ada apa?". "ada apa lagi kamu tanya? dari tadi ibu udah menerangkan didepan kamu malah melamun disitu?!". "hehe, maaf bu maaf". "cepat kamu catat apa yang sudah ibu tulis dipapan tulis!","iya bu" jawabku dengan malas. Semua teman ku dikelas bingung dengan perubahan sikap ku yang sangat drastis. Aku yang biasanya dikelas sering melakukan hal-hal konyol, aku yang dulu sering berbicara dikelas, sekarang aku hanyalah ...