Akhirnya dia Tersenyum (part 3)
Hambar, bahkan bisa dibilang lebih dari hambar, yaitu pahit. Tertusuk, luka, kecewa, itu lah makanan hatiku belakangan ini. Aku bingung, terkadang aku tersenyum melihat Sean sedang bermain dengan orang yang dia sukai, tapi terkadang aku merutuki diriku sendiri untuk menghilangkan rasa kesal, sedih, dan kecewa yang tertanam dihatiku ketika dia bersama orang lain.
Aku masih terpuruk di persimpangan yang entah mengapa selalu tak terjalani, persimpangan diantara membenci karena mencintai, atau menyayangi karena mencintai. Kedua nya berat untuk dijalani, aku tahu bahwa cinta itu tidak dapat dipaksa, aku juga tahu kalau sesuatu yang dipaksa akan menghasilkan sesuatu yang buruk, terlebih lagi cinta. Aku juga tak mau melihat Sean mencintai ku dengan sekedar rasa 'kasihan' atau bahkan mencintaiku dengan beban 'terpaksa'.
Aku hanya berpikir, apakah karma juga berlaku didalam situasi seperti ini? aku yakin Tuhan pasti sangat bijaksana terhadap ciptaannya.
"Shawn, kamu mau kemana?" tanya Sean dengan senyum nya yang manis. "oh kamu, kirain siapa. Enggak, gak mau kemana mana kok. Gak usah Kepo deh!" jawabku ketus dengan rasa perih. "loh siapa juga yang kepo? orang cuma mau nanyak kok, dasar aneh" jawab Sean dengan muka jengkel sambil melaju pergi menghilang dari hadapanku.
Ya, lagi-lagi hanya rasa perih yang kurasakan, perih karena mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang sebenernya sangat ku tunggu. Pertanyaan dari Sean. Apa yang dapat kulakukan? melangkah di duri dengan cara mengabaikan dia terus? entah sampai kapan aku dapat bertahan.
"Selamat siang semuanya, ayo buka buku fisika kalian halaman 56 bagian B" suruh guru fisika kami. Jika melihat buku Fisika, yang melintas diingatan ku ketika aku memberikan buku ku ke Sean supaya dia tidak dijemur ditengah lapangan hanya karena tidak bawa buku. Dan akhirnya aku yang dijemur. Ya kenangan tentang seberapa baiknya aku terhadap Sean, tapi sekarang itu semua lama kelamaan menjadi debu yang terhapus di jalanan, menghilang dari memori ku. "Shawn! kamu kenapa bengong terus sih? udah ibu perhatiin kamu selama hampir sebulan ini berubah ya! kamu makin gak kelihatan di kelas, padahal kamu selalu aktif menjawab soal-soal dikelas. Setelah bel nanti, kamu ikut saya ke kantor guru! ngerti kamu Shawn?!!" bentak guru fisika kami sekaligus wali kelas (killer) kami. "i..iya bu" jawabku pasrah.
kringggg kringggggg bel tanda istirahat pun berbunyi, semua murid langsung bergerak bebas kelingkungan sekolah, sedangkan aku harus berjalan ke kantor guru sendirian.
"silahkan duduk Shawn", "iya bu makasih", "jadi gini Shawn, ibu penasaran sama kamu kenapa kamu hampir sebulan ini bersifat aneh dikelas? kamu itu beda deh pokoknya. Kamu yang biasanya selalu sering ribut, sering membuat lelucon sampai membuat teman mu tertawa, sering main-main dikelas, sekarang kamu jadi anak yang 100% pendiem. Kamu ada masalah apa? tanya walikelas ku. "hah enggak kok bu gak apa-apa, perasaan ibu aja mungkin bu." jawab ku. "perasaan ibu? yang jadi masalahnya bukan cuma saya saja yang merasakan hal itu, semua guru yang masuk kekelas kita juga merasa bingung! coba kamu jujur sama ibu, kamu bisa percaya kok sama saya" jawab walikelasku yang bernama Lenny. "enggak loh bu gak ada apa-apa, cuma ada dikit masalah aja biasa lah anak SMA", "jangan bilang ini masalah cinta?" tanya bu Lenny. "hah? enggak kok bu enggak. Cuma ada masalah kecil aja di rumah" balasku. "ohh yasudah, ibu harap kamu bisa merubah sikap kamu supaya jadi yang seperti dulu, dan terus giat belajar, sudah bell sana silahkan kembali kekelas", "makasih bu, permisi."
"Baiklah, sepertinya aku memang harus move on aku harus bisa melupakan Sean dan menganggapnya hanya sebatas teman. Ya aku harus melakukannya" pikirku sambil berjalan ke arah kelas ku. Tapi tiba-tiba ada suara yang berisik dari arah kelas ku dan kelas ku menjadi ramai. apa yang terjadi? aku pun langsung mempercepat langkah ku ke arah kelas dan melihat dan mendengar sesuatu dikelas. Bukan apa-apa, hanya seorang laki-laki yang sedang dalam posisi setengah jongkok sambil memegang tangan perempuan yang berdiri dan berkata 'Sean, aku sayang sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?' dan jawaban sederhana dari mulut sang perempuan ' iya aku mau' sambil memeluk si pria.
YA, SEAN DAN STENLY PACARAN.
.
.
Hening. Ya itulah yang kudengar sekarang. Sakit, itulah yang kurasakan detik ini. Kecewa, itulah yang kutanggung sekarang. Marah, itulah yang menjadi emosi ku saat ini.
Aku pun langsung berlari ke lantai paling atas gedung sekolah ku di lorong lantai tiga dekat gedung SMP, aku berteriak sekuat tenaga disana sambil memukuli dinding ruangan kelas SMP yang kosong, tanpa kusadari, ada setetes, bahkan lebih dari beberapa tetes air mata yang tanpa diperintahkan keluar dari kedua mataku. Aku menangis kecewa. Pikiran ku gelap, baju basah karena keringat, dan kedua telapak tanganku ku kepal sangat kuat sampai menghasilkan sedikit getaran. Aku pusing dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Cahaya yang tadi nya ada sekarang redup, dan bahkan gelap gulita yang menjadi warna ku. Satu-satu nya perempuan yang kusuka dan kusayang telah menjadi milik orang lain, kecewa ya sangat kecewa. Aku terus mengutuki Tuhan. Aku ingin membanting handphone ku, aku ingin menghapus riwayat obrolan kita. Entah kenapa timbul sedikit rasa benci terdahap Sean, mungkin gara-gara dia telah jadian dengan Stenly.
Sepertinya persimpangan sulit itu memang harus menuju satu arah yang pasti, yaitu melupakan Sean.
Ya aku harus bisa, didunia ini masih banyak perempuan lain. Ya aku pasti bisa aku aku aku..
Aku akan berusaha menghapus Sean dari hidupku.
Kira-kira dua minggu sudah berlalu setelah Sean dan Stenly jadian dikelas. Aku sudah mulai bisa melupakan Sean, meskipun proses nya sangat berjalan lambat tapi akhirnya aku bisa sedikit melupakan dia. Aku sudah mulai mengerjakan satu dua soal dipapan tulis, yang pasti dengan suara kaget dari teman sekelasku karena sudah tidak pernah melihat aku maju mengerjakan soal. Aku sudah mulai melawak di kelas meskipun tetap sedikit garing. Aku sudah mulai aktif dikelas, aku mulai sedikit ribut, tapi semua itu harus ku lakukan dengan tidak melihat wajah cantik, imut, manis Sean. Setiap kami dengan tidak sengaja saling tatap, aku langsung mengalihkan pandangan ku.
Aku sudah mulai menjadi diriku yang sebelumnya, diriku yang sering melakukan hal konyol, ngelawak (yang sedikit garing), dan mulai ribut dikelas. Aku sudah mulai terbiasa dengan status Sean yang sekarang, suatu hari aku bicara kepada dia di hari anniversary mereka. "Sean, happy anniversary ya. Maaf sebulan ini aku agak aneh, itu karena ada sedikit masalah di rumah. Tapi kita masih sahabat kan?". "Shawn, makasih ya. Iya gak apa-apa kok, lain kali harusnya kamu bilang kalau ada masalah. Tapi aku udah biasa kok hadepin orang bodoh kayak kamu haha" balas Sean sambil kami ketawa bersama.
Keesokan hari nya, aku, Sean, Stenly, dan kedua kawan ku Seto serta Rani pergi jalan-jalan. Kami semua saling melakukan lelucon dan tertawa bersama. Mungkin yang dikatakan orang banyak ada benarnya juga 'Mencintai seseorang itu terkadang tidak perlu memiliki' aku harus terus belajar memahami kalimat itu. Kami semua senang sekarang, meskipun bekas luka itu tetap ada, tetapi yang terpenting..
Akhirnya dia tersenyum.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar