Postingan

31 hari dibulan Juli (part 2)

2 - 3Juli "Oliv, kamu udah sarapan tadikan?" Tanyaku dengan sedikit khawatir. "Udah kok lex" Jawabnya dengan lemah. "Makananya kepedasan? atau telat?" "Tadi emang agak telat sih makannya, tapi gak pedas kok" Jawab Oliv. "Berarti itu penyebabnya olivine.." Ucapku dengan nada gantung,  "kamu kan tahu kalau lambung kamu sensitif, harusnya dijaga dong makanannya" "Iyadeh iya, udah dong jangan marah-marah. Lagi sakit kok dimarahin" Ucap Olivine. "Aku bukannya marahin kamu oliv, tapi aku gak mau senyuman yang ada di wajah kamu pudar gara-gara kamu sakit." "Iya deh aku minum obatnya dulu ya" Aku memang tidak ingin sampai senyuman indah yang berasal dari wajah Olivine pudar karena penyakitnya. Entah mengapa, daya tahan tubuh Olivine bisa dibilang cukup rentan. Tetapi dengan adanya kondisi Olivine yang seperti itu, aku jadi semakin berusaha keras untuk bisa selalu ada di sisin...

Hal - hal yang Tak Terpikirkan

            Bagaimana mungkin kita bisa bangkit dari keterpurukan yang luar biasa ini? Bahkan manusianya sendiri lebih mematikan daripada penyakit yang sedang marak menjangkit. Ucapan – ucapan yang terlontar hanya sekedar basa – basi. Keperdulian dan iba juga hiasan untuk menyenangkan hati, tidak lebih sama sekali. Mungkin kalian bertanya – tanya apa yang salah denganku? Tidak ada, hanya kesadaran yang akhirnya membuatku menghela napas sambil berkata “Ini salah kami”.             ‘Kopi Senja’ tertulis besar di depan sebuah tempat tongkrongan yang berada persis di perempatan jalan. Tidak ada yang aneh dari bangunan yang berwarna putih hitam dengan gaya minimalis itu. Semuanya tampak biasa saja, bangunan, parkiran, penjual dan pelanggan. Biasa saja, aku yang lewat menaiki sepeda motorkupun tidak berpikir tentang hal – hal barusan. Setelah melewati pos Satpam untuk memasuki ...

31 hari dibulan Juli (part 1)

14 Juli "Oh sial" Hanya kalimat itulah yang berhasil keluar dari mulutku ketika melihat dia marah untuk yang pertama kalinya. Hari ini adalah hari pertama aku melihat senyuman yang biasanya terlihat jelas mulai memudar dari mimik wajahnya. Lengkungan senyum yang biasa menghiasi kini mulai menghilang, apa yang terjadi? Aku bahkan tak tau apa salahku. Dasar wanita.. Hari ini dimulai ketika aku pergi kesekolah seperti biasa dan bertemu dengannya dikelas. Semuanya biasa-biasa saja, tetapi saatku menyapa Olivine, dia hanya membalas senyumanku dengan anggukan kepala.    "Halo Olivine Safir" Sapa ku dengan jahil seperti biasa, yang hanya dibalas dengan senyuman 1000  makna itu. "Kamu kenapa?"  "Enggak kenapa-napa kok Lex" Balas Olivine yang biasa kupanggil 'Oliv'. "Ya ampun Liv, aku baca dibuku tuh ya, kalau perempuan ditanya 'kamu kenapa?' trus balesannya 'aku gak kenapa-kenapa' itu tuh artinya kalau perempuan ...

Belajar Untuk Membenci (part 3)

Bagaimana rasanya jika kita selalu ada di posisi bagian bawah? selalu berada di posisi yang rawan, rentan goyah. Itu yang selama ini terus kupikirkan. Karena aku tahu, Sean sedang merasa seperti itu. Aku yakin Sean merasa sangat rapuh, rapuh karena semua temannya menjauhi dia hanya karena sesuatu yang belum tentu benar. Tapi aku tahu satu hal, Tuhan tak pernah memberikan cobaan yang tidak bisa di tanggung oleh umatnya. "Seaaan." Panggilku dengan nada jahil. "Apaan sih Nico, pagi-pagi gini udah gangguin aku hahaha." "Gak kenapa kenapa sih, cuma pengen nyapa aja. Enggak boleh ya? okedeh." "Hahaha, ngambek nih ceritanya? hush hush pergi sana hahaha." Setidaknya ada satu hal yang masih bisa kulakukan untuknya, aku masih bisa membuat Sean tertawa. Masih bisa membuat dia tetap semangat melawan semua rintangan yang bertaburan di jalan hidup Sean. Karena ketika Sean tersenyum, bibir ku juga ikut tersenyum. "Nico, kamu mau nggak temenin ...

Belajar Untuk Membenci (part 2)

"Sean, pertemanan itu gak bisa dinilai dari uang. Pertemanan itu gak semurah itu." Kata-kata mungkin lebih gampang terucap, tetapi sangat sulit untuk mengaplikasikannya. Ya, begitulah selalu yang kuucapkan kepada Sean. Teman dekatku yang sangat berarti bagiku ini telah kehilangan segalanya, kehilangan sesuatu yang biasanya disebut dengan sebutan 'teman'. Ayah Sean dipecat dari perusahaannya, dia dituduh menggelapkan uang dari perusahaan tersebut. Meskipun ayah Sean telah mengatakan hal yang sebenarnya kepada pihak yang berwajib, tetap saja proses tersebut memakan waktu. Dan sayangnya perusahaan mengambil keputusan untuk memecat ayah Sean. "Eh itu Sean? Yang ayahnya korupsi kan? Hahaha" "Aduh, jangan deket-deket sama anak tukang korupsi!" "Kita emang pernah punya temen anak korup ya?" Hal-hal seperti itulah yang sering menampar perasaan Sean. Dia selalu dihina hanya karena gosip yang beredar. Dan yang lebih buruknya lagi, Sean m...

Belajar Untuk Membenci (part 1)

"Bagi saya, perempuan itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tapi jika perempuan tidak menghargai dirinya sendiri, maka dia adalah sampah" Itulah yang kukatakan didepan kelas ketika guru ku menyuruhku untuk memaparkan seberapa berharganya seorang perempuan didunia ini, yang pasti dengan adanya sorakan dari teman-teman ku yang menganggap  kata-kata ku barusan sangat lah terlalu dramatis . Ya, begitulah bagiku. Perempuan sangat lah berharga, tapi sayang banyak sekali perempuan maupun laki-laki yang tidak mengerti tentang seberapa berharganya seorang perempuan. "Nico Angelo, ayo sekarang giliran kamu untuk mengerjakan soal nomor 5 di papantulis" Nico Angelo, orang-orang biasa memanggilku Nico. Aku adalah seorang pelajar yang duduk di bangku SMA di kota yang lumayan besar, Medan. Aku hanya memiliki satu kakak perempuan yang bernama Vanessa Angelo yang berumur satu tahun lebih tua dariku, yah kira-kira dia 16 tahun. Aku adalah seorang pelajar yang tidak terlalu ...

Akhirnya dia Tersenyum Origin : Stenly Ringgo

Nama ku Stenly Ringgo, teman-teman ku memanggilku Stenly. Aku duduk di kelas 1 SMA yang lumayan terkenal di kota ku, kota Medan. Aku bersuku Batak, tapi entah dengan alasan apa orang tua ku tidak memberikan marga di nama ku, selayaknya orang yang bersuku Batak lainnya.  Aku adalah salah satu dari hampir seribu anak baru disekolah ku. Tapi aku mempunyai banyak kenalan di sekolah baruku. Mulai dari teman-teman SMP ku yang melanjutkan SMA ditempat yang sama dengan ku, sampai teman yang kukenal dari luar sekolah lama ku. Jadi, aku tidak terlalu merasa canggung di sekolah baruku. Seperti layaknya anak SMA biasa, kerjaan sehari-hari ku bermain, belajar, melakukan hal-hal konyol sampai yang bisa dibilang kriminal alias nyontek, meskipun teman-teman ku mengakui kalau aku lumayan pintar haha. Banyak sekali hal-hal menarik di masa-masa SMA ini, salah satu nya kisah cinta. Kisah yang sederhana tapi sulit dimengerti. Itulah yang ingin kusampaikan. Ada seorang perempuan di kelas 1 SMA di...