31 hari dibulan Juli (part 2)
2 - 3Juli
"Oliv, kamu udah sarapan tadikan?" Tanyaku dengan sedikit khawatir.
"Udah kok lex" Jawabnya dengan lemah.
"Makananya kepedasan? atau telat?"
"Tadi emang agak telat sih makannya, tapi gak pedas kok" Jawab Oliv.
"Berarti itu penyebabnya olivine.." Ucapku dengan nada gantung,
"kamu kan tahu kalau lambung kamu sensitif, harusnya dijaga dong makanannya"
"Iyadeh iya, udah dong jangan marah-marah. Lagi sakit kok dimarahin" Ucap Olivine.
"Aku bukannya marahin kamu oliv, tapi aku gak mau senyuman yang ada di wajah kamu pudar gara-gara kamu sakit."
"Iya deh aku minum obatnya dulu ya"
Aku memang tidak ingin sampai senyuman indah yang berasal dari wajah Olivine pudar karena penyakitnya. Entah mengapa, daya tahan tubuh Olivine bisa dibilang cukup rentan. Tetapi dengan adanya kondisi Olivine yang seperti itu, aku jadi semakin berusaha keras untuk bisa selalu ada di sisinya. Selalu ada untuk melindunginya, selalu menjadi sayap yang bisa menjadi tameng pertahanan hidupnya. Yah dengan kata lain, aku mau terus berada di hidupnya.
Mentari pagi menampilkan cerahnya sinar yang dimilikinya, namun hatiku tetap redup oleh rasa khawatir. Tadi malam Olivine menelponku dan mengatakan bahwa lambungnya sakit lagi dan dia tidak bisa tidur semalaman. Akupun menemaninya dari telepon, mendengar suaranya sudah sedikit membuat hatiku lega. Berjam-jam kami bercakap-cakap melalui seluler genggam, berjam-jam juga aku merasa berada di sampingnya.
16 - 17 Juli
Kanker jantung primer? yang benar saja.
Bagaimana mungkin aku yang telah menjadi pacarnya tidak mengetahui sama sekali tentang penyakit yang telah menggerogoti tubuhnya itu? Pacar macam apa aku ini.
Selalu kucoba untuk menghubungi Olivine, tapi tetap saja nada operator yang sudah muak kudengar yang menggantikan suara Olivine.
"Halo kak Intan?"
"Iya lex? Ada apa?" Balas kak Intan dari seluler genggamnya.
"Udah ada kabar dari Oliv belum kak?"
"Oh udah kok lex, dia bilang dia akan pulang ke Medan besok dan kekmungkinan besar dirawat di salah satu rumah sakit di Medan. Maklumlah lex, biaya pengobatan, hidup dan lain lain diluar sana mahal. Oh iya, dia juga bilang sama kakak, supaya jangan kasih tahu apa - apa ke kamu. Tapi kakak gak tega lihat kamu yang penasaran banget" Jawab kak Intan panjang lebar.
Sial! Aku disini seperti orang bodoh, sedangkan Oliv disana sedang berperang melawan penyakitnya itu. Memang aku tak berguna. Dan sekali lagi, hari ini kuakhiri bersama dengan rasa sesal beserta hancurnya perasaan, ketika orang yang kusayang harus berjuang melawan permainan semesta.
Matahari bersinar seperti biasanya, tidak ada yang spesial. Jam rumahku menunjukkan pukul delapan pagi. Aku segera bersiap-siap berangkat menuju rumah kak Intan untuk menjemputnya. Entah perasaan apa saja yang terus berputar di hatiku. Campur aduk.
"Kak, dimana rumah sakitnya?" Tanyaku dimobil pada kak Intan yang duduk disamping.
"Di RS. Columbia Asia lex. Katanya sih disitu rumah sakit paling bagus, dan paling mahal tentunya."
Hening. sepanjang jalan menuju rumah sakit, cahaya lampu ada dimana - mana, namun tetap saja aku kegelapan. klekson kanan - kiri berbalasan menunjukan kekecewaan dan amarah, berlomba untuk mencapai satu tujuan; rumah. Sesekali aku melirik ke arah kak Intan, pancaran raut wajahnya tak berbeda jauh dengan kelabunya malam ini. Gelisah, takut dan penuh harapan, sesekali terlihat bibirnya bergerak pelan, entah itu doa atau hanya umpatan rasa kecewa. Satu - satunya yang aku tahu, di dalam diri Oliv, bukan hanya nyawanya yang bermukim; orang tuanya, kakaknya, aku, dan seluruh saudaranya juga teman - temannya ada didalam dirinya. itulah alasan mengapa saat Oliv sakit, tidak hanya dia yang menderita.
Sekali lagi, aku bertanya tentang keadilan pada yang Maha Kuasa. berharap kemenangan dari suatu peperangan, namun alih - alih menang, aku takut aku malah kehilangan.
Plang besar yang bertuliskan 'Rumah Sakit Columbia Asia' sudah terlihat, pedal rem mulai kuinjak pelan dan mata dengan lincah mencari tempat untuk parkir. Dengan tergesa - gesa, kami keluar dari mobil dan langsung menuju ke ruangan tempat dimana Oliv dirawat. Sepanjang perjalanan aku tak merasakan kakiku sendiri, hanya pundak ku yang terasa berat, menggendong seluruh pertanyaan, dan harapan yang sampai sekarang tidak juga padam.
Setelah menaiki beberapa anak tangga, aku langsung menuju kamar tempat Oliv dirawat. Tanpa perduli tulisan - tulisan yang terdapat di plang kecil depan kamar, kak Intan langsung saja membuka pintu, sama cemasnya dengan aku.
Hawanya dingin, aroma yang menjadi ciri khas rumah sakit bisa tercium dengan mudah. Terdapat satu buah sofa panjang yang terlihat nyaman berwarna coklat, dengan dua orang yang sedang duduk di atasnya, sama saja, raut wajahnya cemas dan penuh harapan. Usia telah menggerogoti raga kedua orang itu, samar - samar wajah mereka mirip dengan wajah yang selama ini ku pandang di sekolah, baru aku tersadar mereka adalah kedua orangtua Olivine. Sepertinya mereka telah cukup lama berada di ruangan ini, rasa kantuk bisa terlihat jelas dari cara pandang mereka, lelah juga terus setia bersandar di punggung yang sudah renta itu.
Dari arah sofa ku alihkan pandanganku ke sekeliling ruangan kamar; infus yang bergelantungan, sebuah ranjang, piring dengan sisa makanan diatasnya dan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka sehingga terdengar tetesan air keran yang belum tertutup. Ku fokuskan pandangan ke ranjang, langsung saja hatiku dikuasai rasa sedih, terlihat jelas seorang perempuan cantik yang sedang berbaring lemas dan tertidur. Wajahnya pucat sekali, bibirnya kering, seolah olah nyawanya sedang ditarik keluar oleh malaikat penyabut nyawa. Warna wajahnya yang selama ini membiaskan rasa nyaman perlahan - lahan juga pudar, meninggalkan sisa - sisa harapan yang tak kunjung padam di tengah dinginnya malam.
"Ma, gimana kondisi Oliv sekarang?" Kak Intan memulai pembicaraan.
"Iya dia lagi istirahat, tadi kata dokter kondisinya belum membaik. Fisiknya juga sangat lemah dan kondisi jantungnya belum ada perkembangan" Jawab sang ibu dengan lirih.
"Ya Tuhan, aku takut ma"
"Tidak usah takut kak, kita disini cuma bisa berdoa saja kepada Tuhan" Terdengar nada yang ingin memastikan diri sendiri, meskipun percuma saja karena kita sama - sama tahu bagaimana penyakit Kanker terebut.
Komentar
Posting Komentar