Belajar Untuk Membenci (part 2)

"Sean, pertemanan itu gak bisa dinilai dari uang. Pertemanan itu gak semurah itu."
Kata-kata mungkin lebih gampang terucap, tetapi sangat sulit untuk mengaplikasikannya. Ya, begitulah selalu yang kuucapkan kepada Sean. Teman dekatku yang sangat berarti bagiku ini telah kehilangan segalanya, kehilangan sesuatu yang biasanya disebut dengan sebutan 'teman'. Ayah Sean dipecat dari perusahaannya, dia dituduh menggelapkan uang dari perusahaan tersebut. Meskipun ayah Sean telah mengatakan hal yang sebenarnya kepada pihak yang berwajib, tetap saja proses tersebut memakan waktu. Dan sayangnya perusahaan mengambil keputusan untuk memecat ayah Sean.
"Eh itu Sean? Yang ayahnya korupsi kan? Hahaha"
"Aduh, jangan deket-deket sama anak tukang korupsi!"
"Kita emang pernah punya temen anak korup ya?"
Hal-hal seperti itulah yang sering menampar perasaan Sean. Dia selalu dihina hanya karena gosip yang beredar. Dan yang lebih buruknya lagi, Sean menganggapnya sangat serius.
"Nico, kenapa sih dunia ini gak adil?" tanya sean padaku. 
"Justru karena Tuhan itu adil makanya dia biarin semua ini terjadi Sean. Kita gak boleh egois menilai hal-hal yang terjadi dengan buruk cuma karena gak enak dikita. Lagian kan aku udah sering bilang ke kamu kalau aku gak suka sama cara pertemanan Dhera". "Tapi kan.." sela Sean. "Udahlah Sean! kamu gak usah mengelak. Udah ada bukti nyatanya kan? Mereka itu cuma temen senang, dimana mereka waktu kamu susah?".
Sejak awal aku memang gak suka sama Dhera, orang yang gila ketenaran disekolah. Orang yang menilai pertemanan sebatas dengan uang. Persetan dengan orang seperti itu. Orang yang berhasil membuatku merasakan kesedihan yang diderita Sean. Ya, mereka gak layak jadi teman Sean.
"Nico, kenapa kamu masih mau temenan sama aku?" Tanya Sean padaku di suatu sore.
"Udah aku bilang kan sama kamu apa arti kata 'teman' yang sesungguhnya? Teman itu orang yang bisa diandalkan, dipercaya kapan dan di situasi apa aja. Aku bukannya sok keren, tapi aku realistis. Inget Sean, kamu selalu punya bahu aku untuk disandarin."
"Nico, aku gak tau harus bilang apa lagi ke kamu. Kamu memang sahabat aku yang paling baik sedunia Nico!" Ucap Sean sambil tersenyum ceria.
Aku bingung harus merasa senang atau sedih ketika mendengar pernyataan itu. Sahabat. Ya, Sean menganggapku hanya sebagai sahabat. Tidak lebih. Tapi dilain sisi, dia sangat senang dan bahagia jika hubungan kami terus seperti ini, tidak akan berubah lebih.
Aku hanya bisa mencintai Sean secara diam-diam. Dan memang, seperti yang seorang penulis terkenal bilang : Orang yang jatuh cinta diam-diam memang selalu hanya bisa diam-diam.
Aku seperti terhenti dijalanan yang aneh, tidak nyata tapi terasa efeknya. Jalanan dimana aku harus terus berhenti, apa terus berjalan. Aku sering membodohi diriku sendiri dengan cara membohongi perasaanku terhadap Sean. Aku selalu berharap sesuatu yang bahkan aku tidak mengerjakannya agar harapan itu terkabul. Seperti menulis di pasir pantai, yang selalu hilang terkena ombak. 
"Sean, hari ini kita nongkrong ditempat yang biasa ya" Ajakku kepada Sean sewaktu kami berjalan berdua kekantin sekolah.
"Aku gak bisa janji ya Nico"
"Loh? Emangnya kenapa?"
"Enggak apa-apa sih, aku lagi nabung nih."
"Kali ini aku yang teraktir deh"
Begitulah Sean sekarang, dia berubah. Meskipun bagiku bagus, tetapi tetap saja aku tidak suka Sean yang suram, aku sudah terbiasa dengan Sean yang ceria. Tapi mau bagaimanapun juga inilah hidup, hidup yang dinamis. Selalu mengalami perubahan, kadang diatas, kadang dibawah. Tapi kita harus selalu sadar akan satu hal. Kita harus tahu bagaimana rasanya berada dibawah agar kita juga tahu rasanya berada diatas.

To Be Continue..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal - hal yang Tak Terpikirkan

Belajar Untuk Membenci (part 1)