Hal - hal yang Tak Terpikirkan


            Bagaimana mungkin kita bisa bangkit dari keterpurukan yang luar biasa ini? Bahkan manusianya sendiri lebih mematikan daripada penyakit yang sedang marak menjangkit. Ucapan – ucapan yang terlontar hanya sekedar basa – basi. Keperdulian dan iba juga hiasan untuk menyenangkan hati, tidak lebih sama sekali. Mungkin kalian bertanya – tanya apa yang salah denganku? Tidak ada, hanya kesadaran yang akhirnya membuatku menghela napas sambil berkata “Ini salah kami”.

            ‘Kopi Senja’ tertulis besar di depan sebuah tempat tongkrongan yang berada persis di perempatan jalan. Tidak ada yang aneh dari bangunan yang berwarna putih hitam dengan gaya minimalis itu. Semuanya tampak biasa saja, bangunan, parkiran, penjual dan pelanggan. Biasa saja, aku yang lewat menaiki sepeda motorkupun tidak berpikir tentang hal – hal barusan. Setelah melewati pos Satpam untuk memasuki cluster rumahku, aku membuka pagar dan masuk, berniat untuk memarkirkan sepeda motor yang baru saja kunaiki. Suasana rumah sangatlah nyaman, walau sudah berbulan – bulan aku tidak pergi kemana – kemana, tetap saja rumah adalah rumah. Belanjaan yang baru saja kubeli di grosir segera kuangkat dan kumasukan kedalam rumah, kurapikan dan kutata sesuai tempatnya. Begitulah, aku hanya akan keluar rumah jika persediaan makanan dirumah sudah menipis.

           Kebiasaan – kebiasaan lama secara tidak sadar berubah menjadi kebiasaan baru, karena kondisi mungkin. Jika biasanya rasa malas seringkali menang ketika ingin mandi setelah pulang, sekarang menjadi prioritas. Kugantungkan handuk, sepasang pakaian, hidupkan keran dan mulai mengguyuri badanku, tak lama kemudian rasa segar menyelimutiku dan akhirnya kuambil handuk dan mulai mengeringkan badan serta memakai pakaian yang telah kugantung tadi. Kamar dan rebahan adalah tujuanku berikutnya.

            Tiba – tiba semua gelap, tak lama kemudian aku berada di perempatan tadi. Bingung, hal yang terakhir kuingat adalah aku berada dikamar, tapi bagaimana mungkin aku bisa berada disini. Kuperhatikan sekelilingku, perempatan, beberapa sepeda motor dan mobil yang melintas pelan dan bangunan kafe dengan keramaiannya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi barusan, namun ada rasa penasaran yang sangat kuat untuk menghampiri kafe tersebut. Kulihat kiri dan kanan, kendaraan – kendaraan tadi mulai menghilang dan akupun mulai menyebrangi jalan menuju tempat itu. Tak lama kemudian aku sudah berada didepan pintu kafe, parkiran entah mengapa sepi sekali, tidak ada sepeda motor ataupun mobil yang tersusun rapi seperti tadi ketika aku lewat dengan sepeda motorku. Kubuka pintu masuk, dan kulihat sekekelingku : gelap, dingin dan tidak ada siapapun disini, hanya meja dan kursi serta kasir yang semuanya berwarna hitam. Aku mulai menelusuri tempat ini, tanpa kusadari keringat mengalir di sekujur tubuhku. Ada yang aneh disini.

            Tercekam, ditempat ini dingin sekali, namun keringat tidak kunjung berhenti mengalir. Dadaku mulai sesak dan langkahku berat, detak jantungku tak karuan. Takut, rasa itu memenangkan tubuh ini. Ketika kutelusuri tempat ini, perhatianku berhenti pada suatu titik, tembok ujung ruangan. Disana terdapat sebuah tulisan berwarna putih, jika kulihat dari bentuk tulisannya aku rasa ini tulisan tangan.

            MATI DISINI, DIRI SENDIRI.

       Seketika aku terkesiap, kubuka mataku dan melihat sekeliling, aku berada dikamar. Masih dalam posisi terlentang sebagaimana aku biasa rebahan untuk beristirahat, kupegang tangan dan kepalaku, keringat yang seharusnya ada disana sudah menghilang. Kucoba untuk memproses apa yang telah terjadi, kuingat – ingat lagi tulisan itu “Mati disini, diri sendiri” apa yang dimaksud? Mimpi yang aneh.

          Aku beranjak dari tempat tidurku, waktu menunjukkan matahari telah tenggelam. Pintu rumah masih terbuka, sepeda motor masih terparkir rapi ditempatnya. Aku berjalan menuju pintu, sesampainya di teras ada yang mengganggu pikiranku, sebuah pertanyaan. Apakah selama ini kita menghidupi mimpi? Atau mimpi yang menghidupi kita?
           
           
           
           
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Untuk Membenci (part 1)

Belajar Untuk Membenci (part 2)