Belajar Untuk Membenci (part 1)
"Bagi saya, perempuan itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tapi jika perempuan tidak menghargai dirinya sendiri, maka dia adalah sampah" Itulah yang kukatakan didepan kelas ketika guru ku menyuruhku untuk memaparkan seberapa berharganya seorang perempuan didunia ini, yang pasti dengan adanya sorakan dari teman-teman ku yang menganggap kata-kata ku barusan sangat lah terlalu dramatis.
Ya, begitulah bagiku. Perempuan sangat lah berharga, tapi sayang banyak sekali perempuan maupun laki-laki yang tidak mengerti tentang seberapa berharganya seorang perempuan.
"Nico Angelo, ayo sekarang giliran kamu untuk mengerjakan soal nomor 5 di papantulis" Nico Angelo, orang-orang biasa memanggilku Nico. Aku adalah seorang pelajar yang duduk di bangku SMA di kota yang lumayan besar, Medan. Aku hanya memiliki satu kakak perempuan yang bernama Vanessa Angelo yang berumur satu tahun lebih tua dariku, yah kira-kira dia 16 tahun.
Aku adalah seorang pelajar yang tidak terlalu perduli dengan peraturan, terlebih lagi dengan peraturan yang tidak adil. Aku tidak terlalu pintar, dan aku juga tidak terlalu bodoh. Ranking yang kudapatkan tidak pernah jauh berbeda dari sederetan angka : 10,11,12,13. Tidak pernah lebih tinggi, dan juga tidak pernah lebih rendah dari ranking 13.
Disekolah ku banyak sekali perempuan yang bisa dibilang good-looking tapi aku tidak terlalu tertarik dengan mereka, bukan karena aku tidak menyukai perempuan. Tetapi mungkin lebih tepat karena mereka tidak memiliki kriteria yang kucari, misalnya : cantik, manis, tidak gila dengan fashion, tidak suka membicarakan orang lain, tidak manja, mandiri, dan gaya nya harus casual. Tidak ada perempuan yang pernah kujumpai yang memiliki setidaknya setengah dari kriteria ku, yah setidaknya sebelum aku bertemu dengan Sean Anyer.
Sean Anyer adalah seorang perempuan cantik yang selalu tampil casual, lucu serta selalu bisa memperbaik suasana. Atau sebaliknya. Tapi menurut ku dia seperti kertas putih yang masih kosong, sehingga mudah dipengaruhi.
Aku suka sekali ketika bisa memandang wajah Sean, entah mengapa wajahnya seperti membiaskan cahaya cerah yang memikat mata sehingga kita selalu ingin melihatnya. Terlebih lagi suaranya yang sedikit cempreng tetapi tetap bagus untuk didengar, bahkan seperti memiliki kekuatan charmspeak dari kisah Yunani Kuno yang dapat memikat orang untuk melakukan apa yang dikatakannya.
Sean adalah perempuan yang tidak terlalu memikirkan apa yang harus dia pakai dan tidak terlalu mementingkan merk. Dia selalu tampil apa adanya, bagiku disitulah letak kelebihan yang sangat hebat. Dia berbeda dari yang lain. Oh iya, aku dengan Sean adalah sahabat yang sudah dekat meskipun baru ketemu ketika SMA ini. Tapi aku yakin ada hal yang tersembunyi yang belum di ungkapkannya, bagiku dia juga seperti bulan. Mengapa? karena Sean selalu mempunyai bagian yang tersembunyi dihidupnya.
Aku selalu ada untuk Sean, begitu juga sebaliknya. Sean selalu ada untukku, baik dalam kondisi senang maupun sedih. Kami bisa dibilang seperti sahabat yang sudah sangat dekat. Ada satu hal yang selalu menjadi pertanyaan di benak ku, apakah seorang sahabat boleh memiliki perasaan lain? Cinta misalnya?
"Sean! astaga udah berapa lama aku nungguin disini. Katanya tunggu ditempat biasa jam 3 siang, ini sekarang udah jam setengah 5" tanyaku. "Hehehe maaf, tadi aku pergi sebentar sama temen-temen aku". "Oh, sama si Dhera ya? aku gak terlalu suka sama gaya pertemanan mereka". "Ya ya ya udah berapa kali kamu bilang begitu". "Kenapa masih deket sama mereka sih?", tanyaku. "Emang knpa sih? kok kamu malah marah-marah gak jelas gitu? Mereka itu baik loh Nico". "Baik bagi mereka beda sama baik bagi kita, lebih baik kamu agak jaga jarak sama mereka". "Iya deh iya terserah"
Tempat biasa. Aku dan Sean mempunyai sebuah tempat yang bagi kami sangat asyik, yaitu di jalan Semarang yang menyediakan banyak sekali makanan untuk dijual. Kami sering sekali pergi ketempat itu, meskipun hanya untuk mengerjakan tugas sambil ngemil dan bahkan untuk sekedar makan malam saja.
Seperti yang kukatan kepada Sean tadi, aku tidak suka dengan cara berteman ala Dhera Moona. Dia adalah seorang perempuan yang sangat famous yang bahkan membuat sebuah kumpulan konyol dengan teman-teman 'pilihan mereka' yang harus mempunyai uang yang banyak supaya bisa populer di sekolah. Aku sangat geli melihat orang yang gila dengan ketenaran, apa mereka tidak tahu bahwa ketenaran yang keren itu adalah ketenaran yang datang sendiri? Bukan yang dicari-cari sampai membuat sensasi konyol disekolah.
Sean mempunyai orangtua yang sangat sayang dengan anaknya, meskipun terkadang terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ayah Sean bekerja di perusahaan minyak yang lumayan besar, sedangkan ibu Sean bekerja sebagai arsitek handal. Bisa dibilang keluarga Sean sangat berkecukupan. Tidak jauh beda dengan keluargaku, ayahku bekerja di perusahaan minyak juga, sedangkan ibuku hanyalah ibu rumah tangga yang dilarang bekerja oleh ayahku. Orangtua ku selalu menyuruhku untuk membawa mobil ke sekolah, tapi aku selalu menolaknya. Aku lebih memilih untuk naik kendaraan umum dari sekolah, karena aku ingin belajar susah.
Yah, hidupku baik-baik saja sampai sekarang. Setidaknya sebelum aku memulai kegelapan yang membuatku belajar untuk membenci seseorang. Ketika teman Sean, Dhera, mencampakkan Sean begitu saja ketika ayah Sean dipecat dari perusahaannya. Ketika Sean merasa berada di lubang terdalam didunia, teman-temannya malah berpaling menjauhi dia. Semuanya hanya kemunafikan ternyata. Sean sangat terpuruk, sampai sering melamun. Dan cahaya yang tadinya terbias dari wajahnya sekarang sangatlah redup, ditambah dengan kehampaan yang merobek hatinya. Semua temannya menghilang.
To Be Continue..
Yang ini jangan lama2 dipost part selanjutnya ya fo ahahha :D
BalasHapus