Belajar Untuk Membenci (part 3)

Bagaimana rasanya jika kita selalu ada di posisi bagian bawah? selalu berada di posisi yang rawan, rentan goyah. Itu yang selama ini terus kupikirkan. Karena aku tahu, Sean sedang merasa seperti itu. Aku yakin Sean merasa sangat rapuh, rapuh karena semua temannya menjauhi dia hanya karena sesuatu yang belum tentu benar. Tapi aku tahu satu hal, Tuhan tak pernah memberikan cobaan yang tidak bisa di tanggung oleh umatnya.
"Seaaan." Panggilku dengan nada jahil.
"Apaan sih Nico, pagi-pagi gini udah gangguin aku hahaha."
"Gak kenapa kenapa sih, cuma pengen nyapa aja. Enggak boleh ya? okedeh."
"Hahaha, ngambek nih ceritanya? hush hush pergi sana hahaha."
Setidaknya ada satu hal yang masih bisa kulakukan untuknya, aku masih bisa membuat Sean tertawa. Masih bisa membuat dia tetap semangat melawan semua rintangan yang bertaburan di jalan hidup Sean. Karena ketika Sean tersenyum, bibir ku juga ikut tersenyum.
"Nico, kamu mau nggak temenin aku ke pengadilan?" ajak Sean ketika bel bertanda pulang baru saja mengaum.
"Ke pengadilan? Oh, papa kamu ya?"
"Iya Nico, hari ini papa aku sidang."
"Tenang aja Sean, aku temenin kok." Ucapku sambil menarik tangannya keluar dari ruangan kelas.
Papa Sean disidang hari ini. Dia dituduh telah menggelapkan uang perusahaan yang berjumlah lumayan banyak. Meskipun ayah Sean telah mengatakan hal yang sebenarnya bahwa dia tidak pernah menggelapkan uang perusahaan sedikitpun, tapi tetap saja perusahaan tersebut mengambil keputusan untuk memecat papa Sean dengan alasan nama baik perusahaan.
"Selamat Siang seluruh saudara-saudara yang telah hadir, selamat siang juga untuk bapak Rudianto. Dengan ini mari kita mulai sidang kita."
Sidang telah dimulai, percampuran antara segala emosi telah memenuhi hati Sean, terlihat jelas dari raut wajahnya yang terlihat gelisah. Seluruh saksi turut berbicara meramaikan persidangan yang sedang berlanjut, pro dan kontra pun bercampuran saling memberi argumen yang menurut pribadi mereka itu benar. Tetesan keringat terlihat sangat jelas mengalir dari kening Papa Sean, terlihat wajah yang penuh dengan kecemasan dan hal-hal yang tidak pasti. Raut-raut wajah itu terus berganti, cemas, kecewa, kesal, semuanya telah mengambil antrian untuk melengket pada wajah papa Sean.
Wajah Sean tidak kalah cemas dengan papanya. Sesekali air mata menetes karena mendengar tuduhan keras dari beberapa orang yang kontra. Tangan Sean bergetar di tanganku yang di genggam erat oleh Sean daritadi, membuat seluruh emosi dan rasa sedihnya juga mengalir ke diriku. Aku selalu berpikir 'Bagaimana jika aku berada di posisi Sean' Sedih rasanya dituduh sesuatu yang tidak pernah kita lakukan.
"Nico, gimana kalau papa aku dipenjara?" bisik Sean padaku.
"Tenang aja Sean, yang benar selalu menang kok, meskipun terkadang terlihat seperti kalah di dalam prosesnya."
Hanya kata-kata seperti itulah yang bisa kuucapkan pada Sean. Sebuah kalimat sederhana yang semoga saja bisa menguatkan hati Sean yang rentan dan rapuh. Hati seorang perempuan yang tadinya penuh dengan kebahagiaan sekarang terhapus dan berubah menjadi kekecewaan. Dan yang pasti, kekecewaan adalah langkah pertama dalam hal belajar untuk membenci. Aku tidak mau Sean berubah, karena bagiku, Sean adalah seseorang yang layak diperjuangkan. Dan bagi Sean, papa nya adalah seseorang yang layak diperjuangkan. Jadi aku akan melakukan apa saja untuk membantu Sean untuk memperjuangkan papanya.
"Dengan ini, saya menyatakan bahwa Bapak Rudianto dibebaskan dari segala tuntutannya."
Senyum lebar terlihat, baik papa Sean, maupun Sean itu sendiri. Sean memelukku dengan rasa lega, senang, dan seperti baru saja berhasil melewati rintangan panjang. Bersamaan dengan terdengarnya ketukkan palu sang hakim, maka bebaslah papa Sean dari segala tuduhan yang selama ini terus menusuki diri seorang pria paruh baya tersebut.
"Nico, papa aku akhirnya bebas! Yaampun, terimakasih banyak Tuhan." Ucap Sean dengan girangnya.
"Selamat ya untuk papa kamu, akhirnya aku bisa liat muka bahagia itu lagi Sean."
"Oh jadi kamu kangen sama muka bahagia aku? yang ini ya? nih nih liatin aja terus." kata Sean sambil berbicanda padaku.
Semua ada hikmahnya. Mungkin banyak sekali pelajaran yang dapat di terima Sean dari kejadian ini, belajar untuk bersyukur, belajar untuk menerima keadaan, belajar untuk membuang gengsi, belajar untuk rendah hati. Dan Satu hal yang pasti dipelajari Sean dengan baik, belajar untuk membenci. Belajar untuk membenci seseorang yang tadinya disebut teman, menjadi musuh. Seseorang yang hanya ada di kala senang, dan menghilang di kala susah.
Dan akupun mengerti. Sean perempuan yang tegar. Perempuan yang selalu kukagumi, perempuan yang ku suka, perempuan yang kusayang. Tapi ternyata, Sean lebih cocok menjadi adikku. Seorang adik yang selalu bisa kunasihati, bisa diajak bercanda. Dan yang pasti seseorang yang sangat-sangat kusayang, sebagai adik.
Hari-hariku semakin ceria karena melihat senyuman yang tidak hilang-hilang dari Sean. Apalagi ketika tahu bahwa dia sudah jadian dengan Shawn anak sekolah ini juga. Tetapi, terkadang sebuah pertanyaan muncul dipikirannku :
'Sampai kapan senyum itu bisa dipertahankan?'



Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal - hal yang Tak Terpikirkan

Belajar Untuk Membenci (part 1)

Belajar Untuk Membenci (part 2)