31 hari dibulan Juli (part 1)

14 Juli
"Oh sial" Hanya kalimat itulah yang berhasil keluar dari mulutku ketika melihat dia marah untuk yang pertama kalinya. Hari ini adalah hari pertama aku melihat senyuman yang biasanya terlihat jelas mulai memudar dari mimik wajahnya. Lengkungan senyum yang biasa menghiasi kini mulai menghilang, apa yang terjadi? Aku bahkan tak tau apa salahku. Dasar wanita..
Hari ini dimulai ketika aku pergi kesekolah seperti biasa dan bertemu dengannya dikelas. Semuanya biasa-biasa saja, tetapi saatku menyapa Olivine, dia hanya membalas senyumanku dengan anggukan kepala.   
"Halo Olivine Safir" Sapa ku dengan jahil seperti biasa, yang hanya dibalas dengan senyuman 1000  makna itu.
"Kamu kenapa?" 
"Enggak kenapa-napa kok Lex" Balas Olivine yang biasa kupanggil 'Oliv'.
"Ya ampun Liv, aku baca dibuku tuh ya, kalau perempuan ditanya 'kamu kenapa?' trus balesannya 'aku gak kenapa-kenapa' itu tuh artinya kalau perempuan itu kenapa-napa" Jelas ku panjang lebar. Dan yang sedihnya lagi ketika dia hanya berlalu pergi meninggalkan ku dikelas.
Akupun langsung mengejarnya keluar, dan menggenggam tangannya yang masih sama hangatnya seperti saatku pertama kali menggenggam tangannya dulu.
"Oliv, kalau ada masalah dibicarain, jangan di diem-diemin"
"Aku cuma lagi Badmood aja kok" Balas Oliv yang langsung pergi ke lantai bawah.
Aku hanya bingung dengan sikapnya barusan. Tapi, kami tak setiap hari dalam keadaan seperti ini. Dan semuanya dimulai dari awal bulan ini.

1 Juli
"Udahlah Lex, nyatain aja! Mau sampai kapan tunggu waktu yang tepatnya? Sampai dia tiba-tiba merasa di PHPin trus akhirnya sama cowok lain?" Kata Ruby padaku. Ruby adalah seorang teman perempuan yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. 
"Tapi aku bingung By, setiap ngelihat matanya selalu aku mati gaya. Pokoknya dia itu indah, sama seperti batu Olivine."
"Mulai lagi deh keluar sifat puitisnya"
"Emang beneran loh By. Ah yaudah deh, aku sudah membulatkan tekat. Hari ini aku harus nyatain ke dia."
Dan akhirnya terjadi, kalimat sederhana yang keluar dari mulutku barusan tidak bisa kutarik kembali lagi. 
Memang benar, bagi ku Oliv memang indah seperti batu Olivine. Mungkin itulah alasan kenapa nama nya diberikan sama seperti batu indah tersebut. Kehadiran dia selalu menerangkan.
Aku pun dengan niat yang mantap berjalan menghampiri Oliv didalam kelas yang kebetulan sedang sendiri.
"Oliv, kita jadian yuk?"
Kalimat yang sangat sederhana, tetapi sangat sulit untuk keluar dari mulut. Untung aku tidak terkapar dirumah sakit ketika mengatakan hal itu.
"Hehe"
Dan kamipun pacaran.
Awal bulan yang sangat indah bagiku, membuka bulan ini dengan menggandeng tangan Olivine Safir merupakan hal terindah yang memuaskan. 
Tapi aku lupa satu hal. Di segala sesuatu yang terang, pasti terdapat bayangan.

15 Juli
Seharusnya aku merasa senang hari ini, karena hari ini merupakan hari kelahiranku yang ke 16 tahun. Ya, aku masih duduk dibangku SMA. Tepatnya di kota Medan, kota indah yang berkarakter kasar.
Tapi justru sebaliknya, hari ini merupakan hari yang sangat menjengkelkan sedunia bagiku.
Dan yang lebih menjengkelkannya lagi adalah Oliv bahkan tidak mengucapkan selamat kepadaku. Yang bisa kulakukan hanyalah diam dirumah seharian dan menggaruk tembok berulang-ulang. Setiap 5 menit sekali aku mengecek handphone ku dengan harapan ada chat dari Oliv dan mengatakan bahwa semua ini hanya sebuah kejutan untuk menjengkelkan ku. Tetapi sayang, tidak ada kejutan sama sekali hari ini.
Dengan rasa kecewa akupun menghampiri Oliv kerumahnya, dengan harapan bisa berbicara langsung dengan Oliv. Kira-kira Stengah jam kemudian akupun sudah berada di depan gerbang rumah oliv, dan mulai menekan tombol bertulisan 'bel' yang ada dibagian kiri pagarnya.
7 menit, 10 menit, 20 menit. Tidak ada respon apapun dari dalam rumah. Sudah belasan kali jugalah aku menelpon Oliv, tetapi tidak ada yang menjawab. Setelah lelah menunggu dan berniat untuk pulang, akhirnya pintu terbuka. Senyuman tipis yang ada di wajahku langsung menghilang ketika mengetahui bahwa yang keluar bukanlah Oliv, melainkan kakak perempuannya yang bernama Intan.
"Eh kak Intan, Olivine nya ada dirumah gak kak? Dari tadi aku hubungin kok gak diangkat ya" Tanyaku dengan nada memburu.
"Eh Alexandrite. Olivine nya lagi di Penang, masa kamu gak tahu sih?" Tanya kak Intan dengan mengerutkan dahi.
"Hah? Ke Penang? Dia gak ada ceritain apa-apa tentang mau pergi ke Penang  sama aku kak. Dari satu hari yang lalu dia tuh udah diemin aku tanpa alasan kak. Emangnya dia ngapain sih ke Penang?"
Dengan sedikit rasa ragu yang terlihat di mimik wajahnya, kak Intan pun menceritakan semuanya padaku.
"Jadi gini Lex.." Cerita kak Intan padaku.
Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri karena kesunyian yang terjadi satu menit terakhir ini. Dengan rasa sedih kak Intan menjelaskan semua detail nya padaku. Tentang Kanker Jantung Primer yang telah menggerogoti tubuh Oliv selama dua minggu belakangan ini. Seluruh penderitaan Oliv sangat terbayang nyata di benakku. Pendarahan kantung disekeliling jantung atau Pericardium, dan beberapa hal lain yang bahkan jarang terdengar.
"Alex, kamu gak kenapa-kenapa kan?"
"Enggak kok kak" Balasku dengan datar. Tak lama kemudian akupun bergegas pulang.
Kali ini aku mengunci pintu kamar dan duduk dikursi samping meja belajarku. Aku terus memutar otakku untuk mencari sebuah jawaban 'Apa yang dapat kulakukan?'
Dan hari ini pun diakhiri dengan percakapanku kepada Tuhan.
"Tuhan. Tolong dia.."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal - hal yang Tak Terpikirkan

Belajar Untuk Membenci (part 1)

Belajar Untuk Membenci (part 2)