Akhirnya dia Tersenyum Origin : Stenly Ringgo
Nama ku Stenly Ringgo, teman-teman ku memanggilku Stenly. Aku duduk di kelas 1 SMA yang lumayan terkenal di kota ku, kota Medan. Aku bersuku Batak, tapi entah dengan alasan apa orang tua ku tidak memberikan marga di nama ku, selayaknya orang yang bersuku Batak lainnya.
Aku adalah salah satu dari hampir seribu anak baru disekolah ku. Tapi aku mempunyai banyak kenalan di sekolah baruku. Mulai dari teman-teman SMP ku yang melanjutkan SMA ditempat yang sama dengan ku, sampai teman yang kukenal dari luar sekolah lama ku. Jadi, aku tidak terlalu merasa canggung di sekolah baruku.
Seperti layaknya anak SMA biasa, kerjaan sehari-hari ku bermain, belajar, melakukan hal-hal konyol sampai yang bisa dibilang kriminal alias nyontek, meskipun teman-teman ku mengakui kalau aku lumayan pintar haha. Banyak sekali hal-hal menarik di masa-masa SMA ini, salah satu nya kisah cinta. Kisah yang sederhana tapi sulit dimengerti. Itulah yang ingin kusampaikan.
Ada seorang perempuan di kelas 1 SMA di sekolah ku yang sangat memikat pandangan ku, aku juga baru pernah melihat dia. Wajah dia asing dimata ku, tapi entah kenapa aku seperti terhipnotis untuk selalu memerhatikan dia. Setiap waktu istirahat, aku selalu berusaha melihat dia, memerhatikan dia dan semua gerak-gerik nya. Dia sangat lucu, cantik, manis, dan perempuan yang sangat ceria. Apalagi senyumannya yang membuat ku terpanah.
Semakin hari aku semakin sering memerhatikan dia, akupun berusaha mencari tahu tentang siapa kah dia. Aku bertanya pada teman-teman ku, dan beruntungnya aku memiliki beberapa teman dekat yang satu kelas dengan dia. Akupun merasa dewi Fortuna sedang memerhatikan ku dari atas langit sana.
Aku pun bertanya pada salah satu teman dekat ku yang bernama Rere. "Re, nama perempuan yang satu kelas sama kamu yang itu tuh siapa sih?" tanya ku sambil menunjuk ke arah perempuan yang ku kagumi. "hah? yang mana? yang itu? itu nama nya Sean. Emang kenapa? ciee ciee" balas Rere sambil mengejek ku. "hah enggak kok enggak, cuma pengen tahu aja, dia cantik ya" jawabku santai. "Sean! sini deh, ada yang mau kenalan sama kamu!" teriak Rere kepada Sean tiba-tiba. Yah.. Aku hanya bisa diam tak berkata-kata melihat tingkah Rere yang polos, atau memang bodoh?
Dan akhirnya pun perempuan yang bernama Sean itu datang menghampiri ku dan Rere, tapi dia tidak sendiri. Dia bersama seorang laki-laki yang terlihat sangat dekat dengan Sean.
"ada apa re?" tanya Sean dengan suara nya yang sedikit cempreng tapi tetap pas dengan tubuh serta wajahnya. "enggak apa-apa, temen aku mau kenalan sama kamu haha" jawab Rere sambil menunjuk kearah ku. "hai, emm nama ku Stenly Ringgo, panggil aja Stenly". "Oh halo, nama ku Sean, oh iya kenalin juga ini sahabat ku, namanya Shawn." balas Sean. "halo" sapa Shawn padaku.
Kami pun mengobrol sebentar, meskipun sebentar, entah kenapa aku merasa senang dan nyaman dengan Sean. Ditambah dengan adanya Shawn yang sering ngelawak, meskipun terkadang agak garing. Kami mengobrol tentang banyak hal, misalnya tentang masa-masa SMP ku. Kami berempat lumayan senang siang hari itu.
Mulai dari hari itu, aku mulai menanyakan apa nama account twitternya Sean, nama Path nya dia, bahkan aku memberanikan diri untuk menanyakan nomor handphone Sean. Kami pun mulai sering mengobrol satu sama lain. Kami mulai dekat, dia pun sering menceritakan tentang sahabatnya yang bernama Shawn itu. Sampai suatu hari aku ingin meminjam buku Matematika Sean, "Sean, besok bisa gak aku pinjem buku matematika kamu? soalnya buku matematika aku hilang". "oh boleh kok, tapi langsung dibalikkin ya, soalnya lusa aku ada pelajaran matematika", "oke Sean, makasih ya".
Keesokan Hari nya aku pun meminjam buku Sean, setelah pulang sekolah aku melakukan sebuah kesalahan bodoh. Aku langsung pulang tanpa mengingat dan mengembalikan buku yang kupinjam dari Sean. Yang lebih parahnya, Keesokan hari nya aku tidak membawa buku yang kupinjam itu, sial, cuma itulah yang kurasakan. Aku membuat Sean tidak percaya atau bahkan bisa saja dia marah sama ku.
Setelah aku menjelaskan segala sesuatu yang terjadi pada Sean, akhirnya dia pun masuk kelas dengan perasaan takut dan kesal karena ku. Ditambah dengan guru Matematika kami yang Killer, lengkaplah semua rasa takut Sean.
Setelah pulang sekolah, akupun menjumpai Sean dengan alasan ingin meminta maaf padanya. "Sean maafin ya gara-gara aku kamu harus di jemur di tengah lapangan" kataku. "udah gak apa-apa kok, untung ada Shawn yang baik, dia pinjemin aku buku dia. Trus malah dia deh yang dijemur, yaudah deh aku deluan ya. Mau ngeliat si Shawn yang lagi dijemur di lapangan"
Aku mulai bingung dengan Shawn, sampai rela dijemur. Apa jangan-jangan Shawn suka sama Sean? akupun bertanya kepada teman-teman Sean, dan ternyata betul. Shawn mempunyai hati kepada Sean. Aku harus bertindak cepat, aku tidak mau dideluanin oleh Shawn.
Hubungan ku dengan Sean semangkin lama semangkin dekat, dia merespon ku dengan sangat baik. Bahkan beberapa teman dia mengatakan bahwa Sean juga suka padaku, jujur aku sangat bahagia mendengar kata-kata itu. Kami semangkin dekat, kami saling curhat. Sean sering curhat tentang (lagi-lagi) Shawn, dia bilang bahwa Shawn belakangan ini berubah derastis, dia bilang bahwa Shawn bersifat sangat dingin pada Sean.
Aku hanya bisa meng-iya-kan dan memberikan sedikit masukan pada Sean. Hingga suatu hari aku memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa cinta ku pada Sean disekolah.
Dihari Sabtu, ketika waktu istirahat hampir habis. Aku memberanikan diriku untuk menyatakan cinta ku pada Sean, akupun berjalan ke arah kelas Sean. Lalu aku setengah berdiri dan memegang tangan Sean dan menatap mata nya. "Sean, aku sayang sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?" tanya ku dengan penuh harapan dan rasa gugup. "Iya, aku mau" jawab Sean yang akhirnya kupeluk dengan erat. Ya, aku sangat senang sekali aku merasa menjadi laki-laki paling bahagia didunia. Tapi aku seperti mendengar suara jeritan yang berlari menuju tangga atas, mirip seperti suara Shawn. Tapi karena rasa yang sangat bahagia aku pun mengabaikan suara itu. Ya, satu hal yang pasti..
Aku dan Sean JADIAN.
Dua minggu kemudian, aku, pacarku, sahabat pacarku alias si Shawn, dan dua teman ku Seto serta Rani pergi kesuatu tempat. Kami saling mengobrol dengan penuh kegembiraan, meskipun aku yakin rasa perih masih tersimpan dihati Shawn. Tapi kami tetap bersukacita, dan saling menukar senyum satu sama lain. Satu hal yang sangat kusuka, senyuman ceria dari Sean pacarku.
Komentar
Posting Komentar