Akhirnya dia Tersenyum (part 1)


"Shawn!" ya begitulah teman-teman ku memanggil nama ku. Nama lengkapku Shawn McMahon, aku duduk dibangku kelas 1 SMA di tengah kota Medan. Sekolah ku bisa dibilang sebagai sekolah yang lumayan terkenal di Medan, bisa juga dibilang sebagai salah satu sekolah favorit. Banyak kisah yang ingin ku ceritakan, tapi kali ini kisah ku tentang percintaan.
Aku adalah anak yang lumayan sering ngelawak di kelas, yah meskipun terkadang lawakkan yang kukatakan agak garing. Aku memiliki banyak teman disekolah ku yang lumayan besar ini, meskipun anak baru, aku lumayan banyak mempunyai teman baru disekolahku ini. Setiap berkenalan, mereka pasti bertanya sambil bercanda padaku, "eh, namamu Shawn? orang bule dong ya? hahaha". Emang iya, teman-temanku sering mengatakan bahwa namaku seperti nama orang luar negeri. Tapi sebenarnya, nama ku 'Shawn' karena papa mamaku dulu tinggal di Eropa, dan mereka melihat anak yang sangat baik yang menolong temannya saat temannya tenggelam di kolam renang. Dia tidak memperdulikan nyawanya, yang penting dia bisa menyelamatkan temannya yang tenggelam itu. Dari dia lah mama dan papa ku berniat menamai ku dengan nama "shawn". Kuakui, nama ku emang agak keren, hahaha.
Disekolah, aku dikenal sebagai anak baik yang sedikit bandel tapi berkualitas, yah.. aku juga bingung sebetulnya sama apa yang kutulis tentang diriku barusan, hahahaha. Aku memang sedikit ribut disekolah, sering berncanda dengan guru, sering lempar-lempar kertas, dan yang pasti aku pernah nyontek. Tapi aku juga bisa serius disekolah. Aku memang tidak terlalu pintar dikelas, tapi yang pasti aku bisa mengerti semua yang guru jelaskan didepan kelas, meskipun terkadang aku tertidur saat mereka menerangkan pelajaran, khususnya pelajaran Mandarin.
Aku juga bingung kenapa aku sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya Mandarin, dari aku SD, sampai sekarang selalu dapat nilai yang kurang baik(baca : Buruk). Mungkin karena bahasanya yang terlalu ribet, ditambah dengan pengucapan nada nya yang membuat lidah bergejolak. Nilai ku selalu dibawah rata-rata, tergantung dengan guru yang mengajarnya. Di SMA ini karena gurunya "gampang" jadi aku bisa mendapat nilai yang lumayan, dibantu dengan teman-teman setempat pastinya(baca : Nyontek)
Dikelas tempat ku belajar sehari-hari, ada satu perempuan yang entah kenapa selalu bisa membuat ku tersenyum. Dia cantik, dia manis. Senyumannya indah di sepanjang hari. Aku selalu mengagumi dia, kebetulan dia adalah teman dekatku. Tapi suatu hari, tiba-tiba ada keinginan yang lebih dari sekedar teman dihatiku. Disinilah saat dimulainya kisa percintaanku. 
Suatu hari, aku sedang masuk kekelas, tiba-tiba ada yang manggil dari belakang, "Shawn! aduh tungguin dong". Aku langsung menoleh kebelakang, dan menyadari bahwa yang memanggilku itu adalah Sean, teman dekat ku sekaligus cewek yang kusuka. "ya ampun, ngapain kamu pagi-pagi udah ngos-ngosan gitu? mirip sama maling yang abis dikejar warga se-RT". "jahat ya memang! bukannya bantuin dulu, nanti aku kasih tau deh!" ucap Sean sambil masang muka kusut yang pastinya tetap terlihat cantuk dan imut dimataku. 
"udah bisa kamu jelasin kenapa kamu pagi-pagi udah lari-lari gitu?". "jadi gini ya Shawn, tugas Fisika yang dikasih guru kita belom aku kerjain!" jawab Sean sambil nunjukkin buku yang masih kosong kedepan muka aku. "ya elah sean, kirain kenapa. Emangnya kenapa gak mau kerjain?". "kamu kan tau sih kalau aku paling benci sama yang namanya Fisika! aku sama sekali gak ngerti, pas baru baca soalnnya aja aku langsung mual" kata Sean sambil memeragakan bagaimana saat dia mual, membuat ku semangkin terpanah sama tingkah konyolnya. "yaudah kita kerjain bareng-bareng aja sebelum bel masuk, gimana?". "okedeh yok!"
Waktu aku ngerjain tugas dia bareng-bareng, konsentrasiku terbagi dua. 30% ke tugas, 70% kekecantikkan dia. Sampe aku gak sadar aku jadi bengong. "Shawn! kok malah bengong sambil liatin muka aku sih? tadi katanya mau bantuin ngerjain tugas". "oh iya sori-sori hehe, udah sampai mana tadi?". "ah gak tau deh!" balas Sean sambil ngambek masuk kedalam kelas. Mau gimanapun ekspresi yang keluar dari wajahnya, mau itu cemberut, senyum, sampai wajah konyolnya tetep cantik dan imut dimata ku. "wah harus minta maaf ke Sean nih, sean jangan ngambek dong!"
Semakin berjalannya waktu, pertemanan kami semangkin akrab. Kami sering mengejek, main lempar-lemparan, pokoknya bercanda-canda, kamipun bisa dibilang udah jadi sahabat gitu. "oi nenek lampir! hahaha". "hm? siapa tuh yang manggil aku nenek lampir? wah pasti kamu kan Shawn? dasar kakek cangkul! jangan lari kamu haha!" "waduhh kaburr". Kami sering main kejar-kejaran disekolah, sampai-sampai terkadang baju kami basah karena keringet, dan dia kedinginan. Untung aku selalu bawa jaket, jadi aku selalu bisa pinjemin dia jaketku, supaya dia gak kedinginan(arti lain : modus)
Bercanda sama dia itu enak banget, meskipun dia agak emosian orangnya, tapi dia tahu yang mana yang becanda yang mana yang serius, jadi seru gitu kalau main sama dia. Meskipun kami sering berantem juga sih gara-gara masalah sepele, misalnya gara-gara nginjek sepatu atau rebutan pulpen gitu hahaha. "aduh kamu injek sepatu aku ya? Seaaaann!" "weekk ahaha sukurin" " awas kamu ya! sini kamuuu" "uwahhh lariiiiiiii haha". Hari-hari SMA ku pun semangkin penuh dengan warna karena dia.
"aduhh buku matematika ku ketinggalan! huaa!" teriak Sean dengan ekspresi sedihnya. "iya anak-anak silahkan buka buku matematika kalian halaman 57." suruh guru matematikaku. "emm.. bu, buku matematika aku ketinggalan dirumah bu. Tadi pagi-pagi aku telat bangun, jadi kelupaan bawa bukunya." ucap Sean dengan nada sedih ke guru Matematika. "kamu ya Sean!! band.." ."Sean!". tiba-tiba ada yang memotong guru matematika waktu mau marahin Sean. "nih Sean buku kamu, kemaren aku pinjem, maaf ya". "tapi kan itu bukan buku aku, itukan buku ka.." ." udah, ini buku kamu. nih ambil, duduk sana." "bu, yang gak bawa buku bukan si Sean bu, tapi aku." . "berdiri kamu di tengah lapangan selama pelajaran saya satu hari ini! sana!"
Panas sih emang, tapi kalau demi Sean, semua pasti aku lakuin. Gak apa-apa kok dia pakai buku ku, yang penting dia gak di jemur ditengah lapangan kaya aku. 
"Shawn, makasih banyak ya kamu udah sengaja bohong ke guru demi aku. Maafin aku ya Shawn." "iya gapapa kok Sean, yang penting Sean gak dijemur kaya ikan asin ditengah lapangan." . "iyasih ahaha, tapi jadi kamu yang dijemur kaya ikan asin disini weekk". "haha kalau aku gapapa kok, udah terbiasa, ikan asin kan kerjaan sampingan ku hahaha". Demi Sean, aku rela kok haha.
Waktu hari sabtu, aku jalan sama Sean kekantin sekolah, tiba-tiba si Sean pasang ekspresi kaget. Akupun bertanya ke Sean, dan ternyata dia lagi ngeliat anak sebaya ku yang disukainya. Aku baru tahu kabar itu dari teman-teman Sean yang lain. Ternyata di hati Sean ada seseorang yang sangat dia suka dan kagumi, sama seperti hatiku yang mengagumi dan menyukai Sean.

BERSAMBUNG


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hal - hal yang Tak Terpikirkan

Belajar Untuk Membenci (part 1)

Belajar Untuk Membenci (part 2)