Postingan

Belajar Untuk Membenci (part 2)

"Sean, pertemanan itu gak bisa dinilai dari uang. Pertemanan itu gak semurah itu." Kata-kata mungkin lebih gampang terucap, tetapi sangat sulit untuk mengaplikasikannya. Ya, begitulah selalu yang kuucapkan kepada Sean. Teman dekatku yang sangat berarti bagiku ini telah kehilangan segalanya, kehilangan sesuatu yang biasanya disebut dengan sebutan 'teman'. Ayah Sean dipecat dari perusahaannya, dia dituduh menggelapkan uang dari perusahaan tersebut. Meskipun ayah Sean telah mengatakan hal yang sebenarnya kepada pihak yang berwajib, tetap saja proses tersebut memakan waktu. Dan sayangnya perusahaan mengambil keputusan untuk memecat ayah Sean. "Eh itu Sean? Yang ayahnya korupsi kan? Hahaha" "Aduh, jangan deket-deket sama anak tukang korupsi!" "Kita emang pernah punya temen anak korup ya?" Hal-hal seperti itulah yang sering menampar perasaan Sean. Dia selalu dihina hanya karena gosip yang beredar. Dan yang lebih buruknya lagi, Sean m...

Belajar Untuk Membenci (part 1)

"Bagi saya, perempuan itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tapi jika perempuan tidak menghargai dirinya sendiri, maka dia adalah sampah" Itulah yang kukatakan didepan kelas ketika guru ku menyuruhku untuk memaparkan seberapa berharganya seorang perempuan didunia ini, yang pasti dengan adanya sorakan dari teman-teman ku yang menganggap  kata-kata ku barusan sangat lah terlalu dramatis . Ya, begitulah bagiku. Perempuan sangat lah berharga, tapi sayang banyak sekali perempuan maupun laki-laki yang tidak mengerti tentang seberapa berharganya seorang perempuan. "Nico Angelo, ayo sekarang giliran kamu untuk mengerjakan soal nomor 5 di papantulis" Nico Angelo, orang-orang biasa memanggilku Nico. Aku adalah seorang pelajar yang duduk di bangku SMA di kota yang lumayan besar, Medan. Aku hanya memiliki satu kakak perempuan yang bernama Vanessa Angelo yang berumur satu tahun lebih tua dariku, yah kira-kira dia 16 tahun. Aku adalah seorang pelajar yang tidak terlalu ...

Akhirnya dia Tersenyum Origin : Stenly Ringgo

Nama ku Stenly Ringgo, teman-teman ku memanggilku Stenly. Aku duduk di kelas 1 SMA yang lumayan terkenal di kota ku, kota Medan. Aku bersuku Batak, tapi entah dengan alasan apa orang tua ku tidak memberikan marga di nama ku, selayaknya orang yang bersuku Batak lainnya.  Aku adalah salah satu dari hampir seribu anak baru disekolah ku. Tapi aku mempunyai banyak kenalan di sekolah baruku. Mulai dari teman-teman SMP ku yang melanjutkan SMA ditempat yang sama dengan ku, sampai teman yang kukenal dari luar sekolah lama ku. Jadi, aku tidak terlalu merasa canggung di sekolah baruku. Seperti layaknya anak SMA biasa, kerjaan sehari-hari ku bermain, belajar, melakukan hal-hal konyol sampai yang bisa dibilang kriminal alias nyontek, meskipun teman-teman ku mengakui kalau aku lumayan pintar haha. Banyak sekali hal-hal menarik di masa-masa SMA ini, salah satu nya kisah cinta. Kisah yang sederhana tapi sulit dimengerti. Itulah yang ingin kusampaikan. Ada seorang perempuan di kelas 1 SMA di...

Akhirnya dia Tersenyum (part 3)

Hambar, bahkan bisa dibilang lebih dari hambar, yaitu pahit. Tertusuk, luka, kecewa, itu lah makanan hatiku belakangan ini. Aku bingung, terkadang aku tersenyum melihat Sean sedang bermain dengan orang yang dia sukai, tapi terkadang aku merutuki diriku sendiri untuk menghilangkan rasa kesal, sedih, dan kecewa yang tertanam dihatiku ketika dia bersama orang lain. Aku masih terpuruk di persimpangan yang entah mengapa selalu tak terjalani, persimpangan diantara membenci karena mencintai, atau menyayangi karena mencintai. Kedua nya berat untuk dijalani, aku tahu bahwa cinta itu tidak dapat dipaksa, aku juga tahu kalau sesuatu yang dipaksa akan menghasilkan sesuatu yang buruk, terlebih lagi cinta. Aku juga tak mau melihat Sean mencintai ku dengan sekedar rasa 'kasihan' atau bahkan mencintaiku dengan beban 'terpaksa'. Aku hanya berpikir, apakah karma juga berlaku didalam situasi seperti ini? aku yakin Tuhan pasti sangat bijaksana terhadap ciptaannya. "Shawn, kamu ...

Akhirnya dia Tersenyum (part 2)

Hitam putih. Kelabu. Itulah warnaku sekarang, warna ku yang penuh dengan warna-warni telah pudar. Pudar seperti jejak kaki, pudar seperti tulisan dipinggir pantai yang terhapus gelombang air. Apa yang harus kulakukan? bertahan diposisi seperti ini? atau terus berjalan untuk mencapai sebuah warna yang baru? aku sendiri tidak mengerti tindakan apa yang harus kuambil. Apa mungkin sudah saatnya aku berpaling dari Sean? Sudah saatnya bagiku untuk membuka lembaran baru di kertas putih polos? aku.. "Shawn!!", "eh? iya? ada apa?". "ada apa lagi kamu tanya? dari tadi ibu udah menerangkan didepan kamu malah melamun disitu?!". "hehe, maaf bu maaf". "cepat kamu catat apa yang sudah ibu tulis dipapan tulis!","iya bu" jawabku dengan malas. Semua teman ku dikelas bingung dengan perubahan sikap ku yang sangat drastis. Aku yang biasanya dikelas sering melakukan hal-hal konyol, aku yang dulu sering berbicara dikelas, sekarang aku hanyalah ...

Akhirnya dia Tersenyum (part 1)

"Shawn!" ya begitulah teman-teman ku memanggil nama ku. Nama lengkapku Shawn McMahon, aku duduk dibangku kelas 1 SMA di tengah kota Medan. Sekolah ku bisa dibilang sebagai sekolah yang lumayan terkenal di Medan, bisa juga dibilang sebagai salah satu sekolah favorit. Banyak kisah yang ingin ku ceritakan, tapi kali ini kisah ku tentang percintaan. Aku adalah anak yang lumayan sering ngelawak di kelas, yah meskipun terkadang lawakkan yang kukatakan agak garing. Aku memiliki banyak teman disekolah ku yang lumayan besar ini, meskipun anak baru, aku lumayan banyak mempunyai teman baru disekolahku ini. Setiap berkenalan, mereka pasti bertanya sambil bercanda padaku, "eh, namamu Shawn? orang bule dong ya? hahaha". Emang iya, teman-temanku sering mengatakan bahwa namaku seperti nama orang luar negeri. Tapi sebenarnya, nama ku 'Shawn' karena papa mamaku dulu tinggal di Eropa, dan mereka melihat anak yang sangat baik yang menolong temannya saat temannya tenggelam...

KEHIDUPAN NYATA

Hidup itu cuma sekali, coba mikir sayang gak kalau dipakai untuk hal-hal yang negatif ? Tapi sayang didunia ini banyak orang yang salah mengartikan kata-kata "hidup ini cuma sekali". Kebanyakan dari mereka malah memanfaatkan kata-kata itu dengan mengatakan "yaudah, kan cuma sekali. Berarti bebas dong". Disitu tuh letak kesalahan mereka. Mereka membuat persepsi mereka masing-masing, trus yang lebih parahnya mereka mengerjakan apa yang sesuai dengan persepsi mereka dengan alasan pribadi, misalnya karna kesenangan sementara mereka. Emang iya sih manusia bebas membuat persepsi mereka masing-masing, tapi harus yang bener dong. Persepsi kan kenyataan dari sudut pandang orang berbeda, berarti bukan cuma sudut pandang kita aja dong yang harus diperhatiin, sudut pandang orang lain gimana? Menurut pribadi saya sendiri sih, orang yang bilang hidup ini harus bebas itu sebenernya bener sob, tapi bebas terkendali, bukan bebas ugal-ugalan. Yang bener itu bebas ber-etika, buka...